Header Ads

Ride #9: Built to Last

Akhirnya terjawab mengapa di negara seperti India dan Pakistan banyak motor lawas yang “jelek” dengan model yang sama laku keras, seperti perlakuan “facelift” itu tidak pernah ada, atau masyarakatnya sudah tidak peduli?

Honda CG125


Hero Splendor

Dan hari itu datang, ketika dalam perjalanan pulang mampir ke SPBU untuk isi bensin, terlihat jelas pada pintu masuk harga BBM naik dua kali lipat. Setelahnya mampir lagi ke bengkel hendak membeli oli, dan harganya ikut naik dua kali lipat. Hidup di negara dengan penuh keserakahan para pejabatnya, tapi tidak punya kekuatan untuk melawan, hanya bisa terpaksa terus bertahan hidup dengan kondisi yang ekstrim ini. Melihat motor yang dikendarai saat ini tidaklah buruk, dan niat untuk membeli motor baru yang lebih modern, lebih canggih, lebih keren, akhirnya sirna. Dengan sudut pandang ini saya menemukan makna baru, sebuah kendaraan untuk hidup, kendaraan yang mampu menerjang neraka dan keluar darinya.

Kriteria sebuah motor yang bertahan dalam krisis seperti ini selalu saja dipandang sebelah mata. Motor lawas, model jelek, teknologi ketinggalan jaman, manual, dan tidak diminati oleh banyak orang. Tapi dari semua itu banyak orang orang yang meremehkan arti sebuah “kesederhanaan”, dengan sedikitnya tuntutan yang berarti sedikitnya biaya dan kebutuhan yang akan dikeluarkan. Sehingga rider bisa fokus dengan tujuannya. Sehingga semua itu akan terlihat indah dalam kondisi ekstrim yang melahirkan kesyukuran.
  • Tidak peduli kapasitas mesin selagi dapat melaju, dengan BBM apa saja, dan konsumsinya yang rendah adalah rider sudah bisa menjadi raja.
  • Biarkan seperti itu apa adanya, tidak ada yang perlu diubah, selagi mesin hidup dia dapat melayani. Rawatlah, sebagaimana investasi untuk mengumpulkan uang yang lebih banyak, daripada menghabiskan untuk modifikasi yang tidak jelas.
  • Harus buta, dan tuli, biarkan motor lain terlihat keren, canggih, super kencang. Semua itu menggoda tapi ingat tujuanmu adalah bertahan hidup. Bukan untuk menyenangkan dan pujian orang lain.
  • Mogok bukan lagi suatu masalah atau tantangan. Karena “kesederhanaan” membuat orang menjadi berpikir “mandiri”, sebagai senjata untuk bertahan hidup dengan memperbaikinya sendiri. Luar-dalam semua ada penggantinya. Suku cadang dengan mudah didapatkan, walaupun harus memesan di toko yang jauh diseberang pulau. Kalaupun tidak yang menjual, masih ada tukang khusus dapat membuatkannya.
Seperti piramida firaun tetap berdiri melawan terpaan iklim ekonomi negara. Motor seperti inilah yang tahan banting, di siksa untuk kerja berat, buat mereka semua itu hanyalah lawakan belaka. Sayangnya motor seperti ini sudah tidak lagi diproduksi negara ini karena merugikan produsen. Belum lagi paksaan dari para pejabat dengan undang-undang emisi kendaraan dengan dalih merusak lingkungan, sementara mereka tidak menyumbang apapun dari kelangsungan lingkungan hidup.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.