Penyebab utama dari rem blog ada rider itu sendiri. Paling sering terjadi pada orang kota yang ikut-ikutan main ke pegunungan. Masalahnya adalah kebiasaan buruk yang sering dilakukan di jalanan perkotaan. Sehingga cara berkendara mereka "ya begini, karena semua orang begitu" sudah mendarah daging. Di jalanan yang macet rider akan sering berpegangan tuas rem, baik depan atau belakang. Ketika lancar dan jalan kosong orang tertarik untuk ngebut, dan selap-selip seenaknya sendiri. Diperparah dengan jarang servis rem, dan tidak akan servis sebelum plat besi kampas itu habis, atau cakram setipis silet. Tidak apa-apa karena jalan datar tidak ada pengaruhnya.
Kebiasaan buruk berikutnya adalah kelebihan muatan, kelebihan dimesi. Perlu diketahu bahwa setiap kendaraan memiliki batas aman daya angkut maksimal (GVWR). Katakanlah Honda beat 125kg. 1 orang dewasa 60kg, ditambah pembonceng 55 maka jadi 115kg. Sisanya untuk cairan dalam motor, dan barang bawaan 5kg, total menjadi 120kg. Namun yang terjadi yang penting muat, ini sering dilakukan oleh mereka, karena di jalan datar perkotaan itu tidak ada pengaruhnya. Sehingga ya... Tidak apa-apa. Tapi di jalan turunan semakin berat suatu benda, akan semakin cepat melaju, dan semakin jauh menggelinding di jalan turunan. Jika sudah kelebihan beban maka rem akan blong.
Siapa yang mampu melawan alam? Terjadilah “mode panik” sebuah kodisi dimana pikiran dan badan melakukan kebiasaan yang dipercaya akan menghentikan laju motor di turunan, yaitu menarik rem terus menerus sama seperti di jalan macet. Di sini itu tidak beguna, karena gravitasi akan terus menarik ke bawah sampai gaya inersia habis, atau nabrak pagar, atau terjun ke jurang.
Mungkin... dan bisa saja selama ini rem itu tidak pernah blong sama sekali. Tapi rider yang kehilangan kesadaran karena dalam kondisi ketakutan/bahaya. Sehingga badannya kaku, pikirannya buntu. Dia melihat tangannya menarik rem, tapi laju motor tidak pernah melambat. Kejadian sebenarnya adalah jarinya hanya menekan sedikit tuas rem. Kejadian yang sama ketika orang melihat hantu atau ketika mendengar kabar buruk, kaget, badan dan pikiran berhenti.
Apakah sudah menjadi sifat orang Indonesia selalu saja menyalahkan pihak lain dan anti-instropeksi? Ketika ada kejadian ini, selalu menunjuk jeleknya sebuah produk, atau ada penunggu di jalan tersebut. Yah... Itulah yang membuat hati mereka tenang, dengan membuat dirinya sendiri benar.
Kebiasaan buruk berikutnya adalah kelebihan muatan, kelebihan dimesi. Perlu diketahu bahwa setiap kendaraan memiliki batas aman daya angkut maksimal (GVWR). Katakanlah Honda beat 125kg. 1 orang dewasa 60kg, ditambah pembonceng 55 maka jadi 115kg. Sisanya untuk cairan dalam motor, dan barang bawaan 5kg, total menjadi 120kg. Namun yang terjadi yang penting muat, ini sering dilakukan oleh mereka, karena di jalan datar perkotaan itu tidak ada pengaruhnya. Sehingga ya... Tidak apa-apa. Tapi di jalan turunan semakin berat suatu benda, akan semakin cepat melaju, dan semakin jauh menggelinding di jalan turunan. Jika sudah kelebihan beban maka rem akan blong.
Siapa yang mampu melawan alam? Terjadilah “mode panik” sebuah kodisi dimana pikiran dan badan melakukan kebiasaan yang dipercaya akan menghentikan laju motor di turunan, yaitu menarik rem terus menerus sama seperti di jalan macet. Di sini itu tidak beguna, karena gravitasi akan terus menarik ke bawah sampai gaya inersia habis, atau nabrak pagar, atau terjun ke jurang.
Mungkin... dan bisa saja selama ini rem itu tidak pernah blong sama sekali. Tapi rider yang kehilangan kesadaran karena dalam kondisi ketakutan/bahaya. Sehingga badannya kaku, pikirannya buntu. Dia melihat tangannya menarik rem, tapi laju motor tidak pernah melambat. Kejadian sebenarnya adalah jarinya hanya menekan sedikit tuas rem. Kejadian yang sama ketika orang melihat hantu atau ketika mendengar kabar buruk, kaget, badan dan pikiran berhenti.
Apakah sudah menjadi sifat orang Indonesia selalu saja menyalahkan pihak lain dan anti-instropeksi? Ketika ada kejadian ini, selalu menunjuk jeleknya sebuah produk, atau ada penunggu di jalan tersebut. Yah... Itulah yang membuat hati mereka tenang, dengan membuat dirinya sendiri benar.
Posting Komentar