Sebenarnya bengkel resmi adalah bengkel umum yang bekerja dibawah bendera sebuah merk. Mereka memiliki tujuan penjualan part, dan sedikit jasa servis. Sehingga setiap ada kerusakan akan menyebabkan penggantian part yang rusak. Sehingga perlu diketahui bahwa part buatan mereka, memiliki Harga Eceran Tertinggi (HET). Maksudnya jika sebuah part dihargai 50rb dengan “mengatasnamakan” genuine part (asli). maka part yang sama dan asli, di toko akan dijual dengan harga lebih murah. Mereka melakukan itu untuk menjaga keuntungan dari perubahan harga. Dari situlah mereka mendapatkan keuntungan.
| salah satu merk penguasa jalanan |
Kualitas mekanik sebenarnya lebih kompeten karena mereka dari sekolah teknik otomotif. Sehingga pengalaman mereka sudah banyak, dari sekolah - magang - kerja. Namun kompetensi mereka terbentur oleh tujuan utama bengkel, yaitu jualan part. Ya, sebenarnya lebih mudah mengganti dari pada memperbaiki, juga hemat waktu. Namun hal seperti itu untuk mekanik kadang bertentangan dengan hati nurani karena memahami kondisi konsumen. Sehingga lahirlah bengkel umum.
Bengkel umum bisa mengerjakan semua merk, karena pada dasarnya konsepnya itu sama, hanya beda layout, kode, dan desain. Tujuan bengkel ini sederhana, hanya memperbaiki kerusakan yang ada pada sebuah kendaraan. Sehingga perbaikannya bisa beradaptasi dengan kondisi kendaran dan ekonomi pemiliknya. Penggantian part akan menjadi jalan terakhir jika sudah tidak ada lagi kemungkinan solusi. Keuntungannya adalah bisa memilih mendapatkan dari part original, bekas, atau aftermarket. Ini menjadi solusi setelahnya, dengan adanya perbedaan harga dan kualitas.
Keadaan tersebut membuka ruang untuk konsumen dan mekanik dalam mengambil keputusan. Sehingga tidak terjadi sebuah paksaan. Namun ada kalanya konsumen menolak semua itu, kemudian menjadi tantangan seorang mekanik untuk berpikir kritis dan kreatif. dengan kata lain “mengakali”, menyelesaikan masalah tanpa keluar uang, hanya membayar jasa. Hal seperti ini ada baiknya untuk kedua pihak, namun dari sisi mekanik akan menurunkan angka penjualannya. Tapi sisi negatifnya akan timbul “malpraktek” kesalahan mekanik.
Mekanik bengkel umum biasanya lahir dari bengkel resmi yang memilih buka bengkel sendiri karena tidak sejalan dengan hati nurani mereka, atau orang yang mendalami hobi, atau yang terakhir karena nekat bermodal niat. Ketiga jenis mekanik ini memiliki kompetensi yang berbeda.
Mekanik jebolan dari bengkel resmi ini sudah hafal dengan sebuah produk satu merek. Itulah modal buka bengkel, karena penyakit yang ditemui itu-itu saja. Sehingga membuka ruang kosong untuk belajar dan mengikuti perkembangan penyakit motor merk lain. Dengan demikian menjadi seorang mekanik yang handal semua merk. Mekanik seperti ini akan melahirkan mekanik baru yang akan mengalami siklus yang sama. Mekanik seperti ini biasanya berakhir dengan menjadi penjual part, karena usia sudah tua dan kesibukan rumah tangga. Sehingga ilmunya diturunkan kepada karyawan dan anak magang agar usaha bengkelnya tetap jalan.
Berawal dari pemuda dengan semangat yang berkobar hanya dengan modal niat (otodidak) yang tidak berhenti belajar, atau bengkelnya tutup. Biasanya usahanya bertahap seperti mulai dari buka tambal ban, kemudian terima ganti oli, dan lama menerima servis mesin, dll. Bahayanya mekanik model seperti ini tidak mengetahui secara detail dari sebuah kendaraan. Karena biasanya produsen yang usil mengganti sesuatu yang fatal yang mengubah tatanannya. Sehingga hal yang seperti itu lolos dari pantauan si mekanik, yang berakibat merusak nama baiknya. Namun hebatnya, mekanik seperti ini bisa menguasai motor-motor yang umumnya orang pakai. Sehingga tidak kalah dengan bengkel resmi! Terlebih lagi jika mereka mendalami suatu ilmu teknik lebih jauh, mereka menjadi mekanik spesialis.
| Bengkel spesialis moge awalnya hobi dari mocil |
Mekanik hobi biasanya lebih condong ke spesialis, mereka akan ahli dalam satu bidang hingga mencapai tingkat sempurna (master). Seperti bengkel moge, shockbreaker, ban, custom, atau tipe kendaraan tertentu. Bengkel mereka fokus sesuai bidang kompetensinya, tapi tetap menerima servis lain. Sehingga servis di bengkel seperti ini sangat dianjurkan. Hasil kerjanya lebih bagus karena mengikuti harapan konsumen.
Ketiga mekanik tersebut tidak akan pernah akur atau sejalan. Karena mereka memiliki pemikiran dan kepercayaan yang berbeda. Sehingga sebutan “malpraktek” akan terjadi karena beda sudut pandang dari sebuah pengerjaan. Dari mekanik ini mampunya mengerjakan seperti ini. Tapi kata mekanik itu seharusnya tidak begitu. Beda lagi kata mekanik lain, seharusnya diganti karena sudah parah.
Posting Komentar