
Salah satu propaganda Indonesia dalam memiskinkan rakyatnya adalah dengan subsidi BBM. Bagaimana tidak, ketika seorang insinyur dan kimiawan bekerja keras, merelakan hidupnya, sampai kepalanya botak demi menemukan efisiensi bahan bakar untuk sebuah mesin. Eh... malah pemerintah membatasi BBM dengan status ekonomi pembelinya. GOBLOK!
Umumnya motor cc kecil lawas dibawah tahun 2010 dengan kompresi mesin 1:9 akan membutuhkan minimal RON 88. Setelah dianggap punah, ternyata diam-diam rebrand menjadi Pertalite dan tidak ada pilihan lain. Terpaksalah pakai itu.
Mengatasnamakan emisi, menyelamakan bumi, kebersihan udara, motor kecil mendapatkan upgrade sehingga kompresi naik menjadi 1:10, sehingga butuh Pertamax, BBM RON 92. Sialnya rakyatnya tetap miskin, akhirnya orang itu ikut antre beli Pertalite. Tambah panjang antriannya. Peduli amat soal mesin. Inilah sifat Indonesia sebenarnya.
Disinilah letak permasalahannya, pengguna motor lawas merasa hak mereka diambil, sedangkan pengguna motor baru yg miskin merasa BBM harganya mahal. Padahal itu sudah jadi resiko membeli motor tersebut. Pemerintah bukannya menambah produk yang paling laris malah membatasi dan memaksa membeli Pertamax. Akhirnya dua kubu ini ribut sendiri, dan yang kaya cuma menertawakan mereka. wkwkwk
Sedangkan RON 98 biasanya untuk kendaraan yang memiliki kompresi mesin 1:12 ke atas yaitu hi-performa, sports, cc besar, atau kaum minoritas. karena yang punya biasanya orang hobi, atau money laundry. Disini tidak ada yang protes, anehnya... ketiga opsi tersebut adalah BBM busuk dari Pertamina yang sering merusak mesin.
Bagaimana caranya bisa tahu kompresi mesin motor saya? Ya dibaca itu buku pemilik kendaraan. Tapi kan saya beli seken, udah ada internet masih pake nanya, hadeh... sukses sudah program pemerintah.
Posting Komentar