Setelah selamat dari laka, saya berpikir apa yang membuat berkendara aman? Instrumen keselamatan seperti helm, jaket? rambu jalan? atau perlu modifikasi kendaraan seperti crashbar tebal, lampu terang, klakson besar? Namun meskipun semua sudah terpenuhi, kenapa masih saja terjadi? Saya mencoba introspeksi, belajar kembali dari nol, dan disadari bahwa selama ini tidak ada yang mengajarkan saya keahlian berkendara. Ajaran tradisional dari nenek moyang hanya gas, rem, dan belok sekenanya. Lalu dicap sudah ahli, dipikir-pikir konyol sekali. Bahkan tidak ditemukan sekolah mengemudi untuk motor di Indonesia, kecuali di kota besar saja. Tidak mungkin bagi saya, yang hanya seorang pemuda dari kampung, yang mau mengorbankan pekerjaan hanya untuk seminggu di sana.
Tapi harapan baru muncul ternyata banyak dari orang luar negeri yang membagikan ilmunya. Salah satunya adalah Greg widmar, mantan pelatih tentara, yang sekarang menjadi instruktur motor. Dia pernah berkata:

Setelah menguasai skill dasar berkendara, saya terdiam, dalam pikiran saya... jika bisa begini nanti begitu, jika begitu nanti begini. Ternyata ada cabang skill baru dari skill dasar. Pola berpikir baru pun bermunculan. Sehingga mencapai kesimpulan bahwa semakin saya tahu, semakin banyak yang saya tidak tahu. Karena semua skill yang dipelajari sifatnya dinamis, mengikuti kondisi dan situasi. Sehingga keputusan yang diambil pada saat berkendara sangat kritis. Hal tersebut memberdayakan diri untuk menimbang baik-buruknya dari sebuah keputusan. Ini selalu membuat saya berpikir lebih maju, sehingga laka dapat dihindari. Akhirnya menjadi pribadi yang dewasa, seperti ilmu gandum.
Tapi harapan baru muncul ternyata banyak dari orang luar negeri yang membagikan ilmunya. Salah satunya adalah Greg widmar, mantan pelatih tentara, yang sekarang menjadi instruktur motor. Dia pernah berkata:
Motor tidak perlu dimodifikasi. Dari pabrikannya sudah baik. yang perlu upgrade adalah cara berpikirmu. Belajar berkendara dengan teknik yang benar, agar skill berkendara bertambah, dan berkendara jadi lebih amanNamun sifat asli orang Indonesia yang malas, dan suka menyalahkan harus saya lepas. Demi membuktikannya, saya latihan sediri sesuai arahannya. Latihan ini sangat dibenci dan dicaci oleh masyarakat karena bertolak belakang dengan ajaran nenek moyang.

Setelah menguasai skill dasar berkendara, saya terdiam, dalam pikiran saya... jika bisa begini nanti begitu, jika begitu nanti begini. Ternyata ada cabang skill baru dari skill dasar. Pola berpikir baru pun bermunculan. Sehingga mencapai kesimpulan bahwa semakin saya tahu, semakin banyak yang saya tidak tahu. Karena semua skill yang dipelajari sifatnya dinamis, mengikuti kondisi dan situasi. Sehingga keputusan yang diambil pada saat berkendara sangat kritis. Hal tersebut memberdayakan diri untuk menimbang baik-buruknya dari sebuah keputusan. Ini selalu membuat saya berpikir lebih maju, sehingga laka dapat dihindari. Akhirnya menjadi pribadi yang dewasa, seperti ilmu gandum.
Nyatanya setelah mempelajari skill dasar, saya bisa menilai kemampuan sebuah sepeda motor dari desain, performa, kenyamanan. Sehingga motor ini terasa cukup untuk keperluan tertentu. Sehingga dapat meminimalisir modifikasi. Mungkin itu semua akan menyakitkan bagi rider yang kebanyakan uang, karena skill tidak bisa dibeli melalui modifikasi kendaraan. Biarkan ini untuk orang tertentu saja, agar para penjual part modifikasi tetap laku.
Posting Komentar